Kepada 14.14.8

Aku mulai tidak masuk akal. Terjaga tengah malam hingga pukul 3 pagi mencari dirimu di manapun. Berharap kau dilelang dengan harga murah. Aku akan tetap mengurung diri untuk menwar seba tumpukan obat mulai habis di rumah.

Malam hari waktu yang menyeramkan untukku. Dia membawa seseorang kembali dan itu seperti mimpi buruk yang menatapku terbaring di atas kasur dari depan pintu kamar. Aku akan terjaga setelah kelelahan mengakhiri mimpi buruk.

Seseorang setelahmu sedang menghilang. Aku memanggilnya berkali-kali untuk kembali. Tapi dia tidak mendengarnya. Setiap hari aku berharap dia muncul dan mengatakan, tidak apa-apa, dengan suaranya yang lembut di telingaku lagi.

Biasanya aku hanya menunduk atau menutup wajahku di akhir kalimatnya. Sebab aku tidak mengerti mengapa kelembutan masih hidup setelah hampir seluruh dunia habis dilalap api.

Terakhir kali sebelum menghilang, dia belum sempat mengatakan itu padaku. Dan malam hari menghukumku dengan mimpi buruk yang lain.

Aku ingin dia tanyakan lagi, Bagaimana dunia memperlakukanmu belakangan ini?

Kenapa aku harus menahan amarahku jika aku bisa melawan dunia ini sampai mati? Sejak lama aku telah melihat kematian seperti keberuntungan. Aku tidak mengerti dunia ini. Aku bukan petarung. Hidup ini menyiksaku.

Jika dia tidak kembali, dan dunia sudah tidak memiliki banyak waktu, bisakah semuanya berakhir saja sekarang? Apalagi yang ditunggu?

Aku ingin berbaring di permadani Tuhan dan menangis di sana. Di bawah kaki-nya. Di bawah tatapan mata-nya.

Comments