Catatan 20 Juli 2019, Apa Aku Sebenarnya Hanyalah Mesin yang Gagal?

Ada kucing lagi di rumah. Induk dan satu anak. Dua kucing anggora yang dibawa kakakku pemberian dari temannya. Mereka datang dalam keadaan sakit. Induknya demam dan badannya sangat kurus waktu pertama kali tiba. Ada jamur di kulitnya. Dari keadaannya sepertinya pemilik sebelumnya tidak sempat mengurusnya. Anaknya tidak demam tapi tertular jamur dari induknya karena saat itu dia masih menyusu.

Aku dan kakakku membawa induknya ke dokter hewan. Kakakku menamai induknya dengan nama Kitten (yang artinya 'anak kucing' haha. #wtf). Tidak lama setelah itu, aku namai anaknya Theo. 

Sekarang mereka sudah lebih baik. Kitten sudah sangat gemuk. Theo semakin hari semakin besar dan bulunya lembut karena sudah pernah dicukur (Kitten belum). Setiap hari Kitten dan Theo bermain bersama bahkan sesekali kulihat sampai benar-benar berkelahi. Karena Theo teriak ketika digigit Kitten. 

Mereka tidak seperti kucing pertama kami (yang pernah aku ceritakan di catatanku yang sebelumnya, kalau kucing pertam kami galaknya seperti singa betina). Mereka sangat sensitif, perasa dan sangat priayi. Tidak bisa melindungi diri sendiri, bodoh dan penasaran akan apapun. 

Setiap pulang kerja atau kuliah, aku gendong Theo dan memeluknya. Aku katakan padanya "You know i love you right?" dan "No one knows how much i love you" kemudian menciumnya. Kening atau hidungnya. 

Kitten akan selalu mencium kakiku yang belum kucuci setelah melepas sepatu. Kulihat dia tidak terganggu. Tapi sikapnya membuatku takut kalau-kalau dia menandaiku dengan bau yang dia cium di kakiku itu. 

Setelah itu dia akan merebahkan tubuhnya seketika. Menekukkan dua kaki depannya dan memiringkan seluruh perutnya menghadapku. Dia senang perutnya diusap dengan lembut berkali-kali.

Mereka berdua hanya cerita pembuka dari catatanku yang sebenarnya. 

***
Aku hanya mengerti sedikit tentang diriku. Ada bagian aneh yang tidak bisa bergabung dengan orang lain yang bahkan aku sendiri meragukan kelakuannya di dalam diriku. Hanya karena hal itu ada dalam hatiku, tanpa tahu apa Tuhan setuju dengan hal itu, aku meminta izin-Nya untuk tetap menyimpan hal itu dalam hatiku. Kalau kalian, yang membaca ini, berpikir bahwa yang kumaksud adalah "apapun seputar hewan", itu benar. Aku tidak akan menyembunyikannya.

Selain itu yang mencemaskanku adalah kenyataan bahwa aku benar-benar tidak sempurna. Dulu kalimat "tidak ada manusia yang sempurna" tidak benar-benar aku mengerti. Sekarang aku menanyakannya dalam hati, apa orang lain benar-benar mengerti? Karena aku baru menyadari itu sebagai kenyataan di saat umurku yang ke-20. 

Minggu lalu aku menangis karena menyadari aku tidak sempurnya. Tidak BERHASIL sempurna. Aku berusaha menjadi manusia terbaik (yang barangkali Tuhan harapkan) tapi tidak berhasil. 

Menyadari aku tidak sempurna dan gagal menyempurnakan diri membuatku tersakiti seperti rasa sakit pengkhianatan. Karena aku sudah berusaha keras untuk mempercayai diriku bahwa aku bisa menjadi sempurna. Tapi bahkan diriku tidak bisa menjaga kepercayaan itu. Dan hanya memberikanku kegagalan yang tidak aku inginkan. Terima kasih banyak diriku, aku sangat tersakiti karenannya. 

Aku takut untuk benar-benar menjadi baik, tulus dan setia. Hanya dengan hati yang besar dan rendah untuk bisa melakukannya. Itu bukan masalah utamanya. Aku takut kebodohan. Aku takut tenggelam dalam hati besarku sendiri. Sendirian. Tanpa ada orang lain yang mengetahuinya dan mau menyelamatkanku. 

Tiga hal itu (baik, tulus dan setia), sejak dulu di mataku memiliki perbedaan yang tipis. Bahkan berdiri di garis yang sama, menimpa satu sama lain. Rentan dan transparan. Ketika aku bodoh, orang lain bisa melihatnya seperti kebaikan. Begitu juga sebaliknya. 

Manusia tidak butuh sekedar tulus, baik dan setia. Tapi perlu memanfaatkan, memiliki (mengambil dan menyingkirkan), berencana, menyusun, melaksanakan, menyelesaikan dan lain-lain. Dan lain-lain...
Hati sebesar dan serendah apapun tidak berguna untuk keperluan ini. 

Aku tidak sempurna untuk melakukan itu semua. Tidak sempurna untuk menyeimbangkan keduanya. Aku takut kebodohan, aku takut tertawa cemooh orang lain dan mengakui dalam hatiku kalau tawa mereka benar. Tapi bukankah dulu aku sudah menerimanya kalau aku tidak bisa melakukan semuanya sekaligus? Tapi diam-diam aku tetap mencobanya. Gagal dan tidak bisa berdamai dengan kegagalan itu. 

Aku tidak suka jika ada hal yang tidak sesuai dengan rencanaku. Aku benar-benar marah ketika itu terjadi. Dan kemarahan itu berupa ketidakpedulian lain yang semakin membesar. Atau ketika aku tidak punya posisi, kekuasaan dan kekuatan apapun untuk berhak marah, aku akan menangis. 

Seperti orang bodoh.
Kemudian membenci hal itu.
Kemudian mulai tidak menjadi baik.
Seterusnya. Seterunya...

Aku kembali kehilangan arah untuk menjadi manusia yang Tuhan harapkan. 

Kebaikan yang aku lakukan hanya seperti sarana untuk membantuku melihat dengan jelas bahwa aku sangat bodoh. Tidak peduli sebanyak apa buku yang aku baca. Dari sejarah, biologi, novel, puisi sampai psikologi. Dan aku mulai sadari, belakangan ini, aku merasakan jarak yang sangat jauh dengan buku-bukuku. Meskipun mereka tidur bersamaku. Bertumpuk di samping bantal kepalaku. 

Apa yang Tuhan inginkan dariku?
Aku menyembahnya. Mencintainya. Memercayainya. 

Kesimpulan apa yang Tuhan harapkan dari dunia yang dia ciptakan dengan semua kerepotan ini? Setelah semua manusia mengisi surga dan neraka, menjalani itu semua selamanya, lalu apa yang Tuhan dapatkan? Aku tidak mengerti. 

Aku tidak pernah temukan kalimat ini: jangan terlalu banyak bertanya. Lakukan saja.

Itu kalimat yang membuatku sakit perut. Karena muak dan marah. Dan orang-orang yang mengatakan itu mengucapkannya dengan nada seakan mereka mengerti semua inti bumi juga alam semesta dan rencana Tuhan. Yang mungkin bahkan mereka tidak pernah mencoba apa yang pernah aku coba. Yang lebih buruknya, mungkin mereka tidak memiliki keberanian untuk mencoba sesuatu dalam hidup mereka. Aku harap aku benar-benar muntah di celana orang yang mengatakan itu padaku kelak (kalau ada lagi). Kemudian meninggalkan orang itu setelah memeperkan sisaan muntah di mulutku ke baju mereka. 

Bukankah sebelum melakukan sesuatu kita harus tahu apa yang harus dilakukan? Bukan cuma itu, tapi juga cara terbaik, jalan terbaik. Bukan cuma terbaik tapi yang tepat sasaran. Begitu seterusnya. Hidup ini bukan hal yang sederhana. Kalau orang lain masih mau bersikeras memercayai kalau hidup ini sederhana, mereka harus tahu kalau kesederhanaan bukanlah hal yang sederhana. Dan bagaimana kita tahu itu semua jika tidak timbul pertanyaan dalam hati kita? Karena kalau tidak ada pertanyaan apapun yang timbul di dalam hati, maka kita tidak akan pernah mencari tahu. 

Jadi orang A tidak tahu apa yang harus dilakukan, dilarang banyak bertanya, kemudian ada perintah yang diberikan kepada orang A ini "lakukan saja". Bayangkan sendiri entah apa yang akan dilakukan orang A ini kalau dia menurut begitu saja. Terima kasih banyak. Semarah apapun aku kepada kegagalanku, aku bukanlah orang A. 

***
Bagaimana bisa orang-orang di luar sana dapat menguasai media, merusak kehidupan suatu makhluk hingga triliunan keturunan makhluk tersebut dan berlangsung selama berabad-abad untuk memenuhi tujuan lain yang lebih besar atau hanya hal yang sepele? Sementara aku tidak berhasil untuk sekedar menemukan waktu dan tempat konfernsi pers Greyson demi mendapatkan nilai A dimata kuliah Pengantar Jurnalistik.

Aku tidak sempurna. Aku belum berhasil menemukan tempatku.
Aku tidak sempurna dan sangat menyakitkan untuk menerima hal itu. Aku menangis di kamar mandi kantor sambil mengulang kalimat "Aku tidak sempurna, aku tidak berhasil menjadi sempurna." Apakah Tuhan kecewa padaku? Karena yang aku pahami dari sosok-Nya, dari apa yang Dia lakukan kepada semua manusia, Ia ingin ciptaannya mencapai kesempurnaan. 

Aku berusaha. Aku gagal. 
Kemudian menangis di kamar mandi.


Tuhanku, aku tidak sempurna dan itu menyakitkan.
Tapi bahkan dengan ketidaksempurnaan ini, kaumku, manusia, ciptaanmu, hambamu, sangat sempurna menyakiti seluruh hewan di dunia ini. Tidak terlewati SATU PUN. SEMUANYA disakiti. 

Apakah sebenarnya kami hanya mesin yang gagal?
Gagal benar-benar baik seperti malaikat.
Gagal benar-benar buruk seperti iblis.

Comments

Popular Posts