Catatan 17-18 April 2019, Semoga Allah Mengampuniku
Semoga Allah memaafkanku. Yang bahkan tidak mampu menampung kebodohan diri sendiri. Juga seluruh manusia di muka bumi. Tapi bukankah Tuhan juga yang memberitahu manusia "Kamu mau seperti apa?" dan manusia masing-masing memilih kehidupan yang mereka mau. Tanpa tahu apa pilihan mereka diizinkan Tuhan atau tidak. Dan Tuhan membiarkannya namun tetap mengendalikan. Mengiring.
Manusia cenderung mengingat berulang-ulang apa yang mereka inginkan. Jika keburukan yang mereka ingat berulang-ulang, wajar jika Tuhan menepati janji untuk mengabulkan permintaan itu. Seperti yang pernah Ia katakan juga "Mintalah, maka akan Aku berikan." ini berlaku untuk pikiran. Aku senang menyadari ini karena aku selalu mengulang berbagai macam versi pertemuanku denganNya. Dan menimbang-nimbang pertanyaan mana yang lebih baik aku ucapkan lebih dulu di hadapanNya. Apa dia akan menghukumku lebih dulu sebelun bertemu denganNya? Atau dia biarkan aku tetap bersikap kekanak-kanakan menuntut jawaban yang mungkin tidak bisa aku tampung? Baru setelahnya Dia menghukumku?
Apa dia mau menyelamatkan semua orang yang aku sayangi dari neraka ketika aku memohon hal itu tepat di hadapanNya?
Aku cukup sadar untuk mengulang kebahagiaan dan kebaikan yang aku harapkan setiap saat. Sambil mensyukuri setiap kebahagiaan yang Tuhan berikan semata-mata atas kebaikanNya. Bukan karena kebaikan dan kebijaksanaan yang aku lakukan di hidupku.
Kenapa Tuhan berikan setitik wewenang yang Ia miliki pada manusia? Kemampuan untuk menentukan dan memilih. Padahal Tuhan tahu bahayanya wewenang itu di tangan manusia. Tapi sepertinya Dia juga tahu, betapa baiknya wewenang itu di tangan manusia. Mungkin dia berpengharapan besar dari 'betapa baiknya wewenang itu di tangan manusia.'
Saat Tuhan hanya melihat apa yang manusia inginkan dan susuan pilihan yang mereka ambil.
Apa yang Tuhan harapkan dari kemampuan menentukan yang Dia berikan ini? Pertanggungjawaban? Kebijaksanaan? Keikhlasan? Kecerdasan? Kebaikan? Ketulusan?
Tuhan tahu. Dia selalu tahu. Dia tahu seperti apa hasilnya. Tapi Dia juga yang memberikan kesempatan. Mana tahu manusia mau/bisa untuk mengubah hasil yang Tuhan tahu itu. Tergantung juga hasil yang Dia tahu seperti apa.
Aku hampir yakin untuk menanyakan jawaban apa yang dia sembunyikan dari pertanyaan malaikat dulu. Ketika malaikat bertanya "Ya Allah, sudah ada kami, para malaikat dan jin untuk menyembahMu. Kenapa perlu ada manusia? Manusia hanya akan merusak bumi."
Dan Tuhan menyembunyikan jawabannya dengan "Aku lebih tahu darimu."
Apa rencana yang sedang Ia lakukan ini? Hasil apa yang Ia harapkan? Ketika seluruh manusia selesai ditimbang kebaikan dan keburukannya, kemudian penentuan surga-neraka telah selesai, manusia jahat mendapatkan neraka, manusia baik mendapatkan surga, kemudian apa yang akan Tuhan dapatkan? Kesimpulan apa yang ingin Ia dapatkan? Kenapa repot-repot menciptakan dunia ini dengan susunan cerita rumitnya?
Aku hampir yakin. Pertanyaan inilah yang pertama kali akan aku tanyakan pada Allah saat kami bertemu kelak.
Tentang kemampuan pilihan yang Ia berikan. Aku belajar untuk memertanggungjawabkannya di tanganku. Mana yang harus kuambil, mana yang harus kulepas. Dan masih belum berhenti keraguanku di antaranya "Ketika aku melepaskan sesuatu, apakah sebenarnya itu milikku? Bukankah itu artinya aku menyerah di tempatku yang seharusnya?"
Kemudian aku ingat lagi kalimat Tuhan "Kau mau yang mana?"
Terbebaslah aku dari keraguan itu. Aku kehilangan ketakutanku (ini membuatku tidak bisa berhenti memohon kepada Allah untuk selalu melindungiku, menjagaku dan meridhoi semua yang aku lakukan. Agar tidak terjadi hak buruk padaku).
Saat aku menentukan "Aku mau ini. Apa boleh?" Tuhan diam saja. Kenyataannya, aku yang selalu tidak bisa mendengar jawabannya. Mungkin dia tidak ingin manusia sekedar mendengar. Tapi lebih baik menyaksikannya.
Karena itukah sikapnya seperti mengizinkan semuanya? Aku bertanya, dia tidak menjawab dan aku harus terus melalui jalanku. Seperti Tuhan menyuruhku dengan sabar dan penuh kasih sayang "Pergikah ke sana. Dan lihat saja jawabannya. Kemudian kamu akan tahu kenapa jawabannya seperti itu. Kemudian kamu akan tahu kenapa Aku menyuruhmu kesana. Kemudian kamu akan tahu semua yang ingin kamu tahu."
Kemudian dia akan lihat sikapku ketika jawabannya "tidak boleh" atau ketika jawabannya "boleh". Membiarkanku memilih lagi. Berjalan lagi. Menemukan jawaban lagi. Memilih lagi... Dan aku harus menerima jawaban yang manapun dengan rendah hati.
Dia mendidikku sangat sabar. Bahkan ketika barangkali aku mengecewakannya. Dia selalu mencintaiku. Bahkan ketika aku membenci dunia yang Ia ciptakan ini dan berusaha keras untuk menerima dunia macam apa tempat aku berada ini. Kenapa Allah bisa memaafkan berkali-kali? Sabar menghadapi makhluknya yang lamban. Dan Dia lakukan itu kepada setiap manusia, hewan, tumbuhan dan semua makhkuk lain.
Dia tahu apa yang Dia lakukan.
Seniman yang sangat aku sukai memiliki lirik ini di lagunya:
This is not the world he had in mind.
But we got time.
Aku punya waktu untuk menyayangi orang-orang di sekitarku. Aku punya waktu untuk kuliah dan kerja. Aku punya waktu untuk bersama keluargaku, teman-temanku, orang-orang yang aku sayangi.
Aku punya waktu untuk mengungkapkan kasih sayang dan menerima. Waktu untuk melaporkan dan mensyukuri apa yang terjadi dalam satu hari kepada Allah setiap hari.
Allah, Tuhanku tersayang, rendahkanlah hatiku dan luaskanlah. Aku akan selalu melakukannya. Menyediakan ruang yang cukup pantas untuk Engkau isi. Terserah Engkau isi dengan hal yang Engkau inginkan atau aku butuhkan. Terserah sesuai rencanaMu. Sesuai yang Engkau ketahui dan pantas untukku.
Aku ingin menjadi yang Engkau harapkan.
Kumohon, indahkanlah dunia ini untuk seluruh makhluk.
Baik-an lah dunia ini.
Baik-an lah seluruh makhluk.
Terima kasih untuk satu lagi hari yang penuh berkah yang telah aku lewati.
Terima kasih telah mencintaiku.
Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu.
Manusia cenderung mengingat berulang-ulang apa yang mereka inginkan. Jika keburukan yang mereka ingat berulang-ulang, wajar jika Tuhan menepati janji untuk mengabulkan permintaan itu. Seperti yang pernah Ia katakan juga "Mintalah, maka akan Aku berikan." ini berlaku untuk pikiran. Aku senang menyadari ini karena aku selalu mengulang berbagai macam versi pertemuanku denganNya. Dan menimbang-nimbang pertanyaan mana yang lebih baik aku ucapkan lebih dulu di hadapanNya. Apa dia akan menghukumku lebih dulu sebelun bertemu denganNya? Atau dia biarkan aku tetap bersikap kekanak-kanakan menuntut jawaban yang mungkin tidak bisa aku tampung? Baru setelahnya Dia menghukumku?
Apa dia mau menyelamatkan semua orang yang aku sayangi dari neraka ketika aku memohon hal itu tepat di hadapanNya?
Aku cukup sadar untuk mengulang kebahagiaan dan kebaikan yang aku harapkan setiap saat. Sambil mensyukuri setiap kebahagiaan yang Tuhan berikan semata-mata atas kebaikanNya. Bukan karena kebaikan dan kebijaksanaan yang aku lakukan di hidupku.
Kenapa Tuhan berikan setitik wewenang yang Ia miliki pada manusia? Kemampuan untuk menentukan dan memilih. Padahal Tuhan tahu bahayanya wewenang itu di tangan manusia. Tapi sepertinya Dia juga tahu, betapa baiknya wewenang itu di tangan manusia. Mungkin dia berpengharapan besar dari 'betapa baiknya wewenang itu di tangan manusia.'
Saat Tuhan hanya melihat apa yang manusia inginkan dan susuan pilihan yang mereka ambil.
Apa yang Tuhan harapkan dari kemampuan menentukan yang Dia berikan ini? Pertanggungjawaban? Kebijaksanaan? Keikhlasan? Kecerdasan? Kebaikan? Ketulusan?
Tuhan tahu. Dia selalu tahu. Dia tahu seperti apa hasilnya. Tapi Dia juga yang memberikan kesempatan. Mana tahu manusia mau/bisa untuk mengubah hasil yang Tuhan tahu itu. Tergantung juga hasil yang Dia tahu seperti apa.
Aku hampir yakin untuk menanyakan jawaban apa yang dia sembunyikan dari pertanyaan malaikat dulu. Ketika malaikat bertanya "Ya Allah, sudah ada kami, para malaikat dan jin untuk menyembahMu. Kenapa perlu ada manusia? Manusia hanya akan merusak bumi."
Dan Tuhan menyembunyikan jawabannya dengan "Aku lebih tahu darimu."
Apa rencana yang sedang Ia lakukan ini? Hasil apa yang Ia harapkan? Ketika seluruh manusia selesai ditimbang kebaikan dan keburukannya, kemudian penentuan surga-neraka telah selesai, manusia jahat mendapatkan neraka, manusia baik mendapatkan surga, kemudian apa yang akan Tuhan dapatkan? Kesimpulan apa yang ingin Ia dapatkan? Kenapa repot-repot menciptakan dunia ini dengan susunan cerita rumitnya?
Aku hampir yakin. Pertanyaan inilah yang pertama kali akan aku tanyakan pada Allah saat kami bertemu kelak.
***
Tentang kemampuan pilihan yang Ia berikan. Aku belajar untuk memertanggungjawabkannya di tanganku. Mana yang harus kuambil, mana yang harus kulepas. Dan masih belum berhenti keraguanku di antaranya "Ketika aku melepaskan sesuatu, apakah sebenarnya itu milikku? Bukankah itu artinya aku menyerah di tempatku yang seharusnya?"
Kemudian aku ingat lagi kalimat Tuhan "Kau mau yang mana?"
Terbebaslah aku dari keraguan itu. Aku kehilangan ketakutanku (ini membuatku tidak bisa berhenti memohon kepada Allah untuk selalu melindungiku, menjagaku dan meridhoi semua yang aku lakukan. Agar tidak terjadi hak buruk padaku).
Saat aku menentukan "Aku mau ini. Apa boleh?" Tuhan diam saja. Kenyataannya, aku yang selalu tidak bisa mendengar jawabannya. Mungkin dia tidak ingin manusia sekedar mendengar. Tapi lebih baik menyaksikannya.
Karena itukah sikapnya seperti mengizinkan semuanya? Aku bertanya, dia tidak menjawab dan aku harus terus melalui jalanku. Seperti Tuhan menyuruhku dengan sabar dan penuh kasih sayang "Pergikah ke sana. Dan lihat saja jawabannya. Kemudian kamu akan tahu kenapa jawabannya seperti itu. Kemudian kamu akan tahu kenapa Aku menyuruhmu kesana. Kemudian kamu akan tahu semua yang ingin kamu tahu."
Kemudian dia akan lihat sikapku ketika jawabannya "tidak boleh" atau ketika jawabannya "boleh". Membiarkanku memilih lagi. Berjalan lagi. Menemukan jawaban lagi. Memilih lagi... Dan aku harus menerima jawaban yang manapun dengan rendah hati.
Dia mendidikku sangat sabar. Bahkan ketika barangkali aku mengecewakannya. Dia selalu mencintaiku. Bahkan ketika aku membenci dunia yang Ia ciptakan ini dan berusaha keras untuk menerima dunia macam apa tempat aku berada ini. Kenapa Allah bisa memaafkan berkali-kali? Sabar menghadapi makhluknya yang lamban. Dan Dia lakukan itu kepada setiap manusia, hewan, tumbuhan dan semua makhkuk lain.
Dia tahu apa yang Dia lakukan.
Seniman yang sangat aku sukai memiliki lirik ini di lagunya:
This is not the world he had in mind.
But we got time.
Aku punya waktu untuk menyayangi orang-orang di sekitarku. Aku punya waktu untuk kuliah dan kerja. Aku punya waktu untuk bersama keluargaku, teman-temanku, orang-orang yang aku sayangi.
Aku punya waktu untuk mengungkapkan kasih sayang dan menerima. Waktu untuk melaporkan dan mensyukuri apa yang terjadi dalam satu hari kepada Allah setiap hari.
Allah, Tuhanku tersayang, rendahkanlah hatiku dan luaskanlah. Aku akan selalu melakukannya. Menyediakan ruang yang cukup pantas untuk Engkau isi. Terserah Engkau isi dengan hal yang Engkau inginkan atau aku butuhkan. Terserah sesuai rencanaMu. Sesuai yang Engkau ketahui dan pantas untukku.
Aku ingin menjadi yang Engkau harapkan.
Kumohon, indahkanlah dunia ini untuk seluruh makhluk.
Baik-an lah dunia ini.
Baik-an lah seluruh makhluk.
Terima kasih untuk satu lagi hari yang penuh berkah yang telah aku lewati.
Terima kasih telah mencintaiku.
Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu.
Comments
Post a Comment