Catatan 22 Maret 2019
Tiba-tiba ini hari jumat. Tiba-tiba hari ini sudah pukul 18.49. Sudah hampir seminggu demamku datang dan pergi. Ini salahku. Tapi aku masih bisa melakukan semuanya. Aku rasakan cinta Tuhan kepadaku tiap detik. Padahal setiap hari aku sangat menyebalkan. Setiap hari aku mengecewakan Tuhan, barangkali. Tapi Tuhan selalu mengirimi seseorang untuk menolongku. Apa aku pernah menjadi apa yang Tuhan inginkan meskipun hanya sebentar? Aku takut membuatnNya kecewa.
Demamku mulai kembali saat aku menulis ini. Pusingnya juga. Aku belum makan lagi sejak terakhir kali aku makan tadi siang. Aku lihat di dapur ada rendang dan ikan lele. Aku tutup kembali lemari lauk setelah terdiam beberapa lama memandangi mereka dan berkata dalam hati "Apa aku akan makan hewan-hewan yang sudah mati ini?" kemudian aku jawab, "Aku tidak mau." Tapi aku harus makan. Dan barangkali setelah ini aku akan memilih salah satu di antara dua hewan mati di lemari itu.
Saat ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka beberapa jam lalu, aku berjongkok sebentar di lantai kamar mandi. Bersandar ke dinding. Menahan pusing beberapa lama sambil menyederhanakan apa yang terjadi di sekelilingku sampai aku sadari kalau aku baik-baik saja. Kuliahku baik-baik saja, pekerjaanku baik-baik saja, keluargaku baik-baik saja. Aku harus sabar.
Sabar dari apa?
Dari kenyataan bahwa aku masih belum mendapatkan apa yang aku mau? Tidak apa-apa, aku masih mengusahakannya. Aku sedang di jalan menuju ke sana.
Aku harus kerjakan tugas mata kuliah Pengantar Jurnalistik-ku.
Aku baru menyelesaikan makanku. Akhirnya aku makan sapi mati dari lemari itu. Dulu aku tidak mengerti kematian. Hanya yang kulihat, kematian mengundang banyak kesedihan di mata orang banyak. Tapi kenapa kematian sapi yang barusan kumakan sangat lezat? Nenekku punya kemampuan memasak yang baik. Bekali-kali aku ingin belajar darinya. Barangkali aku bisa berhenti cemas melihat potongan daging di hadapanku karena tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah mereka menjadi terasa sangat lezat dan melupakan penderitaan mereka untuk kebahagiaanku (ini terdengar sangat jahat). Barangkali dengan kebahagiaan dalam hatiku bahwa seseorang yang kucintai akan memakan masakanku.
Apa ini hanya sindrom tambah umur? Selalu ada kesedihan dan kecemasan tiap beberapa bulan sebelum bertambahnya umur. Setidaknya itu yang aku rasakan. Apa orang lain merasakannya juga? Atau aku harus cek ini ke psikiater? Aku pikir tidak semerepotkan itu. Karena aku masih sadar, semuanya baik-baik saja.
Sebentar lagi Ramadhan. Selalu menyenangkan untuk mengingat bulan itu akan datang. Aku ingin besok sudah Ramadhan. Jadi nanti malam aku harus bangun tengah malam untuk sahur. Sehabis shalat subuh aku akan langsung berangkat ke kantor. Berpuasa di kantor. Pulang ke rumah sambil menunggu maghrib. Buka puasa dengan ibu dan nenek. Ayah akan pulang malamnya membawa takjil yang sengaja tidak ia makan untuk di bawa ke rumah. Ramadhan sangat menyenangkan. Dan sayangnya, masih satu bulan lagi.
Tahun lalu Ramadhan aku lalui cukup sulit. Meski menyenangkan juga. Aku lalui Ramadhan tahun kemarin dengan memikirkan kampus mana yang akan aku daftari, mencari pekerjaan dan yang membuat itu semua terasa sulit, saat itu aku lalui hari-hari dengan kerinduan. Aku harus berbuat jahat pada diriku sendiri---dengan mengabaikan apa yang terjadi dalam hatiku. Tapi aku dapatkan hadiahku sekarang. Hari-hari yang aman, tenang, bahagia dan terkendali.
Barangkali setelah ulang tahunku nanti, aku akan dapatkan hadiahku yang baru.
Mudah bagiku untuk menyayangi seseorang. Tapi hanya beberapa di antara mereka yang aku jatuh cintai. Dan kecepatan aku jatuh cinta kadang terlalu terburu-buru. Itu semua selalu membuatku merasa terhina. Sampai suatu hari aku marah dan mengatakan "Kenapa harus selalu seperti ini?" Kenapa aku jatuh cinta pada seseorang yang sejak awal sudah membuatku berkata pada diriku sendiri, "Jangan perjuangkan yang satu ini." "Kau tidak harus memerjuangkan yang ini." "Ini bukan waktumu untuk memerjuangkan."
Kemudian aku temukan nada sinis dari ucapan diriku yang lain:
Orang-orang tidak perlu harus jatuh cinta untuk bersama. Bahkan mereka yang saling jatuh cinta satu sama lain, mengakuinya satu sama lain, juga tidak bisa bersama. Tapi orang-orang jatuh cinta dan tersiksa. Padahal dua orang bisa saja menikah tanpa perlu jatuh cinta.
Merepotkan. Tapi siapa yang bisa menghentikan ini? Jatuh cinta sangat menyakitkan, tapi semua orang ingin jatuh cinta. Mungkin manusia memang diciptakan plin-plan, merepotkan, pemilih dan egois.
Aku mencemaskan sesuatu yang membuatku menulis ini. Padahal seharusnya aku mengerjakan tugas Pengantar Jurnalistik-ku.
Ada beberapa orang di hidupku yang aku inginkan mereka untuk selalu bersamaku. Hanya karena aku ingin mereka ada di dekatku. Aku tidak ingin pergi dari mereka atau mereka pergi dariku. Aku ingin lalui hidup ini, memerjuangkan apa yang aku mau, menjalani kuliahku, pekerjaanku, mendapatkan impianku bersama mereka di dekatku. Aku ingin mereka bersamaku.
Orang-orang yang akan pergi, akan pergi tanpa perlu kuusir. Orang-orang yang akan ada, akan ada tanpa perlu aku minta. Seharusnya aku tidak perlu rewel mengurus mana yang harus pergi dan mana yang harus ada. Itu bukan tugasku.
Tapi ya Allah, di antara mereka ada yang spesial untukku. Dan aku tidak ingin mereka pergi dariku. Kenapa aku harus merelakan kehilangan berkali-kali dan mengobati diri sendiri setiap saat. Aku ingin mereka yang spesial bagiku, selalu bersamaku. Ketika aku bisa memaksa dunia untuk memberikan apa yang aku mau dengan memaksa diri untuk terus meraihnya, kenapa saat yang aku inginkan adalah "seseorang" aku tidak bisa memaksa? Aku mengerti kenapa aku tidak bisa memaksa, tapi kenapa ada pengecualian yang seperti ini?
Apa aku layak meminta hal ini?
Ya. Karena aku belajar bertahun-tahun untuk tidak lari dari orang-orang. Yang aku sayangi, yang tidak aku sayangi, yang aku benci, yang tidak aku benci, yang aku pedulikan, yang tidak aku pedulikan, bahkan yang tidak terlintas di pikiranku sama sekali. Aku belajar menyesuaikan diri untuk profesional di hidup ini setiap detik. Aku layak meminta mereka yang aku inginkan untuk selalu bersamaku. Karena aku tidak lari dari mereka.
Untuk siapa pun di luar sana yang pernah melihatku menghindar, lari, mengabaikan kalian, maksud utamaku bukanlah itu. Aku berusaha menjaga diriku sendiri. Aku menutup jalan dari apa pun di dunia ini yang bisa menyakitiku. Namun hasilnya terlihat seperti lari, menghindar dan mengabaikan kalian. Tapi sungguh, barangkali kalian yang paling merasa aku hindari adalah yang paling aku cintai. Ini kebiasaanku. Baru belakangan ini aku mulai menjalankan pelajaran baruku.
Kerendahhatian. Rasa penerimaan bahwa aku membutuhkan orang lain. Yang barangkali orang lain itu tidak mau membantuku. Yang barangkali orang itu tidak mau, tidak bersedia untuk ada di dekatku. Rasa penerimaan bahwa aku kekanak-kanakan dan hanya masih menjalani pubertiku. Kerendahhatian bahwa akan ada yang menghinaku di dalam hati mereka hanya karena aku tidak memiliki apa yang mereka miliki. Atau karena aku tidak mengerti banyak hal sebanyak yang mereka mengerti. Atau masa yang aku lewati masi sangat pemula. Atau hanya karena aku lebih muda dari mereka. Kerendahhatian bahwa aku tidak bisa mengerjakan semuanya sekaligus. Aku tidak bisa selalu mendapatkan apa yang aku mau. Dan tidak boleh menyesalinya.
Rasanya menenangkan. Setelah mengetahui apa saja yang bisa aku lakukan, aku mengakui dengan rendah hati daftar yang tidak bisa kau lakukan tanpa kecemasan. Aku menyukai dua daftar itu sekarang. Daftar yang bisa aku lakukan dan daftar yang tidak bisa aku lakukan.
Tiba-tiba ini pukul 21:44 malam. Demamku membaik semenjak selesai makan tadi. Aku tidak mengerjakan tugas Pengantar Jurnalistik-ku dan harus tidur karena kelelahan.
Demamku mulai kembali saat aku menulis ini. Pusingnya juga. Aku belum makan lagi sejak terakhir kali aku makan tadi siang. Aku lihat di dapur ada rendang dan ikan lele. Aku tutup kembali lemari lauk setelah terdiam beberapa lama memandangi mereka dan berkata dalam hati "Apa aku akan makan hewan-hewan yang sudah mati ini?" kemudian aku jawab, "Aku tidak mau." Tapi aku harus makan. Dan barangkali setelah ini aku akan memilih salah satu di antara dua hewan mati di lemari itu.
Saat ke kamar mandi untuk sikat gigi dan cuci muka beberapa jam lalu, aku berjongkok sebentar di lantai kamar mandi. Bersandar ke dinding. Menahan pusing beberapa lama sambil menyederhanakan apa yang terjadi di sekelilingku sampai aku sadari kalau aku baik-baik saja. Kuliahku baik-baik saja, pekerjaanku baik-baik saja, keluargaku baik-baik saja. Aku harus sabar.
Sabar dari apa?
Dari kenyataan bahwa aku masih belum mendapatkan apa yang aku mau? Tidak apa-apa, aku masih mengusahakannya. Aku sedang di jalan menuju ke sana.
Aku harus kerjakan tugas mata kuliah Pengantar Jurnalistik-ku.
***
Aku baru menyelesaikan makanku. Akhirnya aku makan sapi mati dari lemari itu. Dulu aku tidak mengerti kematian. Hanya yang kulihat, kematian mengundang banyak kesedihan di mata orang banyak. Tapi kenapa kematian sapi yang barusan kumakan sangat lezat? Nenekku punya kemampuan memasak yang baik. Bekali-kali aku ingin belajar darinya. Barangkali aku bisa berhenti cemas melihat potongan daging di hadapanku karena tahu apa yang harus dilakukan untuk mengubah mereka menjadi terasa sangat lezat dan melupakan penderitaan mereka untuk kebahagiaanku (ini terdengar sangat jahat). Barangkali dengan kebahagiaan dalam hatiku bahwa seseorang yang kucintai akan memakan masakanku.
Apa ini hanya sindrom tambah umur? Selalu ada kesedihan dan kecemasan tiap beberapa bulan sebelum bertambahnya umur. Setidaknya itu yang aku rasakan. Apa orang lain merasakannya juga? Atau aku harus cek ini ke psikiater? Aku pikir tidak semerepotkan itu. Karena aku masih sadar, semuanya baik-baik saja.
Sebentar lagi Ramadhan. Selalu menyenangkan untuk mengingat bulan itu akan datang. Aku ingin besok sudah Ramadhan. Jadi nanti malam aku harus bangun tengah malam untuk sahur. Sehabis shalat subuh aku akan langsung berangkat ke kantor. Berpuasa di kantor. Pulang ke rumah sambil menunggu maghrib. Buka puasa dengan ibu dan nenek. Ayah akan pulang malamnya membawa takjil yang sengaja tidak ia makan untuk di bawa ke rumah. Ramadhan sangat menyenangkan. Dan sayangnya, masih satu bulan lagi.
Tahun lalu Ramadhan aku lalui cukup sulit. Meski menyenangkan juga. Aku lalui Ramadhan tahun kemarin dengan memikirkan kampus mana yang akan aku daftari, mencari pekerjaan dan yang membuat itu semua terasa sulit, saat itu aku lalui hari-hari dengan kerinduan. Aku harus berbuat jahat pada diriku sendiri---dengan mengabaikan apa yang terjadi dalam hatiku. Tapi aku dapatkan hadiahku sekarang. Hari-hari yang aman, tenang, bahagia dan terkendali.
Barangkali setelah ulang tahunku nanti, aku akan dapatkan hadiahku yang baru.
***
Mudah bagiku untuk menyayangi seseorang. Tapi hanya beberapa di antara mereka yang aku jatuh cintai. Dan kecepatan aku jatuh cinta kadang terlalu terburu-buru. Itu semua selalu membuatku merasa terhina. Sampai suatu hari aku marah dan mengatakan "Kenapa harus selalu seperti ini?" Kenapa aku jatuh cinta pada seseorang yang sejak awal sudah membuatku berkata pada diriku sendiri, "Jangan perjuangkan yang satu ini." "Kau tidak harus memerjuangkan yang ini." "Ini bukan waktumu untuk memerjuangkan."
Kemudian aku temukan nada sinis dari ucapan diriku yang lain:
Orang-orang tidak perlu harus jatuh cinta untuk bersama. Bahkan mereka yang saling jatuh cinta satu sama lain, mengakuinya satu sama lain, juga tidak bisa bersama. Tapi orang-orang jatuh cinta dan tersiksa. Padahal dua orang bisa saja menikah tanpa perlu jatuh cinta.
Merepotkan. Tapi siapa yang bisa menghentikan ini? Jatuh cinta sangat menyakitkan, tapi semua orang ingin jatuh cinta. Mungkin manusia memang diciptakan plin-plan, merepotkan, pemilih dan egois.
***
Aku mencemaskan sesuatu yang membuatku menulis ini. Padahal seharusnya aku mengerjakan tugas Pengantar Jurnalistik-ku.
Ada beberapa orang di hidupku yang aku inginkan mereka untuk selalu bersamaku. Hanya karena aku ingin mereka ada di dekatku. Aku tidak ingin pergi dari mereka atau mereka pergi dariku. Aku ingin lalui hidup ini, memerjuangkan apa yang aku mau, menjalani kuliahku, pekerjaanku, mendapatkan impianku bersama mereka di dekatku. Aku ingin mereka bersamaku.
Orang-orang yang akan pergi, akan pergi tanpa perlu kuusir. Orang-orang yang akan ada, akan ada tanpa perlu aku minta. Seharusnya aku tidak perlu rewel mengurus mana yang harus pergi dan mana yang harus ada. Itu bukan tugasku.
Tapi ya Allah, di antara mereka ada yang spesial untukku. Dan aku tidak ingin mereka pergi dariku. Kenapa aku harus merelakan kehilangan berkali-kali dan mengobati diri sendiri setiap saat. Aku ingin mereka yang spesial bagiku, selalu bersamaku. Ketika aku bisa memaksa dunia untuk memberikan apa yang aku mau dengan memaksa diri untuk terus meraihnya, kenapa saat yang aku inginkan adalah "seseorang" aku tidak bisa memaksa? Aku mengerti kenapa aku tidak bisa memaksa, tapi kenapa ada pengecualian yang seperti ini?
Apa aku layak meminta hal ini?
Ya. Karena aku belajar bertahun-tahun untuk tidak lari dari orang-orang. Yang aku sayangi, yang tidak aku sayangi, yang aku benci, yang tidak aku benci, yang aku pedulikan, yang tidak aku pedulikan, bahkan yang tidak terlintas di pikiranku sama sekali. Aku belajar menyesuaikan diri untuk profesional di hidup ini setiap detik. Aku layak meminta mereka yang aku inginkan untuk selalu bersamaku. Karena aku tidak lari dari mereka.
Untuk siapa pun di luar sana yang pernah melihatku menghindar, lari, mengabaikan kalian, maksud utamaku bukanlah itu. Aku berusaha menjaga diriku sendiri. Aku menutup jalan dari apa pun di dunia ini yang bisa menyakitiku. Namun hasilnya terlihat seperti lari, menghindar dan mengabaikan kalian. Tapi sungguh, barangkali kalian yang paling merasa aku hindari adalah yang paling aku cintai. Ini kebiasaanku. Baru belakangan ini aku mulai menjalankan pelajaran baruku.
Kerendahhatian. Rasa penerimaan bahwa aku membutuhkan orang lain. Yang barangkali orang lain itu tidak mau membantuku. Yang barangkali orang itu tidak mau, tidak bersedia untuk ada di dekatku. Rasa penerimaan bahwa aku kekanak-kanakan dan hanya masih menjalani pubertiku. Kerendahhatian bahwa akan ada yang menghinaku di dalam hati mereka hanya karena aku tidak memiliki apa yang mereka miliki. Atau karena aku tidak mengerti banyak hal sebanyak yang mereka mengerti. Atau masa yang aku lewati masi sangat pemula. Atau hanya karena aku lebih muda dari mereka. Kerendahhatian bahwa aku tidak bisa mengerjakan semuanya sekaligus. Aku tidak bisa selalu mendapatkan apa yang aku mau. Dan tidak boleh menyesalinya.
Rasanya menenangkan. Setelah mengetahui apa saja yang bisa aku lakukan, aku mengakui dengan rendah hati daftar yang tidak bisa kau lakukan tanpa kecemasan. Aku menyukai dua daftar itu sekarang. Daftar yang bisa aku lakukan dan daftar yang tidak bisa aku lakukan.
Tiba-tiba ini pukul 21:44 malam. Demamku membaik semenjak selesai makan tadi. Aku tidak mengerjakan tugas Pengantar Jurnalistik-ku dan harus tidur karena kelelahan.
Good Job
ReplyDelete