Catatan 27 Maret 2019

Seseorang yang sangat bijaksana pernah mengatakan,

Jangan terus-menerus menggenggam pecahan beling dalam tanganmu. Sebab itu membuat lukanya tidak akan pernah sembuh. Lebih baik buka genggamanmu dan cabut satu persatu beling yang tertancap di kulitmu. Memang tetap menyakitkan tapi dengan begitu kamu akan sembuh. Hanya perlu waktu untuk luka itu tertutup dengan sendirinya. 

Aku masih mencabuti sisa-sisa beling itu di tanganku. Memang menyakitkan. Tapi bahkan ketika beling itu sudah keluar sepenuhnya, rasanya lebih baik. Aku ingin beritahukan dunia kalau dia tidak perlu mengambil paksa apa yang aku miliki, aku akan memberikannya dengan sukarela. Semua yang bukan milikku, bahkan aku tidak akan berpikir untuk menyimpannya. Dan semua yang milikku, aku tahu bukan sepenuhnya milikku. Aku akan menjaga jarak dari semua keributan itu. Terlalu malas untuk ikut campur. Atau aku sudah tidak peduli apapun lagi. 

Sekarang aku memertanyakan, bagaimana jika ini bukan tentang pecahan beling yang aku genggam? Dunia ini menusukku terus menerus dengan benda tajam. Aku sudah cukup mengerti untuk menerimanya saja. Diam dan membiarkan dunia ini menusukku berkali-kali. Tidak berhenti. Aku harap dia berhenti tapi tidak sama sekali. Dan itu membuatku semakin yakin untuk memilih diam saja. Aku tahu aku tidak bisa mengharapkan siapa-siapa. Dan Tuhan bisa melakukan apa saja padaku. Aku tidak perlu repot-repot rewel ini itu. 

Aku ingin tahu apa yang Tuhan cari dari dunia ini. Dulu ketika Dia menciptakan dunia ini, apa hasil yang dia harapkan? Kalau saja aku tahu, mungkin aku bisa lebih yakin dengan apa yang harus aku lakukan. 

Setelah dunia ini berakhir dengan kiamat yang Dia janjikan, manusia telah mengisi surga dan neraka, apa yang akan Dia dapatkan setelahnya? Kesimpulan apa yang akan Dia ambil dan Dia harapkan? Aku sudah meminta Tuhan untuk mengingatkanku kelak akan hal ini dan akan aku tanyakan langsung padanya kelak ketika kami bertemu. 

Dia memberiku kemampuan untuk membuat cerita (meski tidak cukup baik untuk menceritakannya dengan lisan). Aku akui kemampuan yang Dia berikan masih belum mampu aku kendalikan. Setiap kali aku melihat atau mendengar sesuatu, ketika di rumah, di jalan, kantor, kampus, aku tidak bisa berhenti membuat cerita di dalam pikiranku. Aku belum bisa mengendalikannya. Dan aku tidak menuliskan mereka semua. Lebih tepatnya, aku selalu mengabaikan semua cerita itu dan patuh menjalani kesibukanku. 

Kadang itu mengganggu kegiatan sehari-hariku. Ketika bekerja di kantor atau sedang belajar di kelas. Aku sering tidak menyadari bahwa aku telah melamun cukup lama karena membuat cerita di pikiranku. Kemudian berencana untuk menulisnya dan itu membuatku semakin lama kehilangan fokusku di hadapan apa yang sedang aku kerjakan. 

Kadang mengganggu, kadang sangat menyenangkan. Hanya di cerita-cerita itu aku benar-benar melakukan semua yang aku mau tanpa beban, tanpa rasa takut, tanpa hukuman, tanpa ancaman, tanpa batasan, tanpa orang lain dan segala dalam diri mereka yang senang menyakiti satu sama lain. Aku sering gunakan ini untuk menyingkir atau (jika cukup efektif) agar orang lain menyingkirkanku. Jadi aku tidak perlu repot-repot habiskan tenaga untuk menyingkir. Dan Tuhan tidak memarahiku melakukan ini. 

***
Belakangan ini aku dengarkan banyak lagu Alan Walker. Aku senang mengabaikan. Itu membuatku bisa terus menjalani hidupku tanpa takut dan mengerjakan apa yang harus kerjakan (juga yang ingin aku kerjakan. haha). Dan lagu Alan Walker membuatku bisa mengabaikan semua yang ingin aku abaikan dengan cara yang menyenangkan. Juga sangat terhibur.

Beberapa lagunya penuh rasa sakit. Siapapun bisa menyanyikannya dan bukan rasa sakit yang memenuhi hati mereka. Orang-orang bisa menyanyikannya dengan keberanian yang penuh---tidak hanya dalam hati---tapi di seluruh tubuh mereka. Itu sudah cukup membuat orang-orang untuk tetap bertahan berdiri dengan kedua kaki mereka.

Aku akui lagi---entah ini sudah yang ke berapa kali: buku-buku dengan seluruh kecerdasan yang ditawarkan di dalamnya, juga lagu-lagu dengan seluruh perasaan yang disuguhkan di dalamnya, mereka menyelamatkanku lagi. Ketika aku memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkanku, Tuhan kirimkan mereka kepadaku. Barangkali mereka sukarela mengajukan diri untuk menyelamatkanku.

Aku bisa lalui hari-hari dengan baik dan mensyukuri semuanya setiap sebelum tidur meski aku tidak melaluinya dengan orang-orang yang aku inginkan. Tanpa mereka yang aku mau untuk selalu bersamaku. Dengan kerinduan untuk berada di sisi mereka.

Tapi apa artinya keinginan itu jika kenyataannya aku selalu tetap bisa lalui hari yang baik dengan sikap yang baik meskipun tanpa mereka?

Aku senang aku tidak bergantung pada siapa-siapa. Itu membuatku tidak perlu menuruti siapa-siapa. Menuruti Tuhan lebih menyenangkan. Semuanya semakin membaik selama aku semakin menuruti Tuhan.

Perintah Tuhan sangat masuk akal. Keputusan Tuhan sangat masuk akal. Hanya saja biasanya aku terlambat mengerti.  Atau memang hidup lebih menarik dengan pengetahuan yang berangsur-angsur. 

Ketidaktahuan adalah anugerah.
Lupa adalah penghargaan. 
Aku baikan diriku setiap hari agar anugerah dan penghargaanku diperbaharui dengan alasan dan cara yang baik-baik.




Hari ini sangat membahagiakan,  aku banyak tertawa, pekerjaanku lancar,  kuliahku lancar, aku punya banyak teman yang bisa bersenang-senang dengan cara yang sama bersamaku. Aku dan keluargaku tidak pernah berhenti saling mencintai.

Dan Tuhan tidak pernah berhenti memberkahi itu semua.

Allah-ku tersayang,
Terima kasih untuk hari ini.












Comments