Jangan Hindari, Tapi Kendalikan

Kemampuanku untuk berempati sangat besar. Sejak kecil aku sadari aku lahir dengan (karunia atau kutukan? Aku lebih suka menyebutnya "alat bertahan hidup yang Tuhan berikan untukku") kepedulian yang sangat besar. Aku sering mendapat masalah karena hal ini. Aku rasakan berbagai perasaan lain melebihi takaran yang seharusnya karena kepedulian dalam diriku.

Hingga SMK aku jijik dengan kepedulian. Usapan tangan ibuku yang entah kenapa lebih terasa seperti kemunafikan daripada kasih sayang, petuah ayahku yang lebih terdengar seperti ancaman daripada bekal hidup, perbincangan dengan kaak kandungku yang lebih sering terlihat seperti pil pembunuh yang harus kuminum. Berkali-kali aku berusaha lepaskan perasaan itu---kepedulian---dari diriku dan sifatku, tapi justru dia memberontak dalam diriku. Dan jika tidak dituruti, jiwaku menjadi korbannya. Jiwaku bisa terganggu dalam kurun waktu tertentu. Aku tidak tahu saat itu untuk apa kepedulian ini yang diriku sendiri tidak bisa menampungnya---tidak bisa mengendalikannya. Yang aku dapatkan hanya masalah.

Apa dunia ini membutuhkan hal yang seperti ini? Atau yang lebih dari ini?

Dari seluruh cerita, buku, kasus kriminal, ketidakdilan juga penderitaan yang kutahu, semuanya menjawab: Ya.

Di umurku yang ke 19 tahun ini aku temukan ke mana aku bisa tuangkan seluruh kepedulianku. Ada wadah yang sangat besar bahkan kepedulianku tidak cukup membuat wadah itu terisi meski hanya seperseratusnya. Wadah itu adalah lubang yang manusia gali sendiri berabad-abad yang kelak bisa menenggelamkan seluruh manusia lagi. Lubang penderitaan yang dibuat manusia kepada hewan dari masa ke masa.

Di wadah itulah aku tuangkan semua kepedulianku. Dan aku lihat akhirnya, kepedulian yang kumiliki tidak cukup. Aku butuh kepedulian yang lebih banyak.

Perasaan-perasaan lunak dan tidak bisa dimengerti kenapa tiba-tiba ia bisa tulus tanpa direncanakan, aku mulai bersahabat (setidaknya berdamai lebih dulu) dengan itu semua. Aku tahu sekarang lebih baik mengendalikannya daripada menghidari perasaan itu atau menghilangkannya. Lebih berguna mengendalikannya.

Dari mana aku bisa mulai belajar untuk mengendalikan kepedulianku? Ada banyak. Aku memulainya dari jalur yang kusukai. Sangat menarik memulainya dari jalur yang kusukai. Sangat menarik memulainya lewat laki-laki yang aku jatuh cintai. Tidak bisa dihindari, aku remaja yang sangat tertarik tentang jatuh cinta.

Jatuh cinta selalu menarik untuk dipelajari. Orang-orang tetap jatuh di tempat yang sama meski sepanjang umur bumi, ada banyak sejarah yang menjelaskan kejadian tentang kejatuhan dalam berbagai versi. Orang-orang tetap tidak berdaya ketika jatuh. Bahkan jatuh berkali-kali. Seperti keledai. Manusia tidak pantas lagi mengatai keledai bodoh.

Manusia sangat egois, penakut, pengecut, penuh keraguan, pemarah, plin-plan, membenci tapi memanfaatkan satu sama lain dan mudah jatuh cinta. Manusia memiliki seluruh gen egois. Barangkali jatuh cinta termaruk dalam gen egois jika dilihat dari keinginan seseorang untuk memiliki sepenuhnya ketika jatuh cinta.

Kepedulian sangat sensitif ketika jatuh cinta. Dan untukku, karena mudah peduli, aku mudah jatuh cinta. Jahat juga untuk mengakui, seorang laki-laki (hebat dan gentle) perlu terlihat menyedihkan agar aku bisa jatuh cinta sangat dalam. Ada seorang ibu dalam diriku yang selalu ingin menyayangi sosok lain. Entah itu berupa anak atau pasangan. Manusia atau hewan. Tumbuhan atau alam semesta. Tuhan atau diri sendiri.

Kenapa sangat menarik memulai pengendalian kepedulian yang kumiliki lewat jatuh cinta? Padahal aku ingin tumpahkan kepedulianku untuk menutup lubang penderitaan hewan di seluruh dunia? Karena selalu ada batasan ketika memedulikan manusia lain. Dan batasan sangat efektif untuk dijadikan sarana pengendalian. Aku tidak sekedar membutuhkan perasaan hingga 1000% kepedulian. Aku juga butuh cara, alasan dan usaha untuk mewujudkan kepedulian yang berguna.

Lewat menemukan batasan kepedulian yang bisa dan tidak bisa aku berikan pada laki-laki yang aku jatuh cintai (dan mematuhi semua itu) membuatku mengerti sejauh mana hewan perlu dipedulikan. Sebab Tuhan sendiri menyediakan beberapa hewan yang memang diciptakan untuk dimakan manusia.

Kelak ini akan sangat berguna untukku. Dan perasaanku tidak akan meluap semaunya tanpa kendali. Setelah ini akan aku ceritakan pengalaman kepedulianku ketika jatuh cinta.

Comments