Animal Testing Pandangan Pertama

Dulu aku bilang "Cinta pertamaku adalah ketika aku masih SD kelas 5." Tapi bahkan sebelum itu aku pernah menyukai (karena belum pantas disebut jatuh cinta) orang lain. Jadi aku singkirkan kisah-kisah yang seperti ampas jeruk nipis itu dan merapikan ingatanku. Hingga aku bisa sebutkan dengan mudah di sini, pengalaman cinta yang paling menggangguku "pertama kali" adalah ketika aku kelas dua SMK.

Laki-laki sederhana yang selalu mengatakan "Aku tidak peduli". Kelak aku belajar darinya---dari kalimatnya itu---untuk tetap pergi (meski dengan berat hati dan air mata yang berjatuhkan di pipiku) meninggalkan laki-laki yang tidak bisa aku temui di hari-hari terakhir aku di Kediri untuk kembali ke Jakarta.

Jika aku katakan ada seseorang di luar sana yang bertahan hidup dengan harapan, kamu akan sangat mudah menyetujuinya. Jika aku ganti kata harapan itu dengan makanan, kamu akan menyetujuinya juga. Tapi apa kamu bisa menerimanya jika aku katakan dia bertahan hidup dengan ketidakpedulian? Ketidakpedulian telah menyelamatkan hidupnya. Ketika orang tuanya bahkan menyakitinya.

Kata itu sering digunakan untuk membenci, mengungkapkan rasa sakit. Begitu juga yang aku temukan dalam dirinya ketika dia mengatakan kalimat itu. Tapi bukankah dia bisa duduk bersandar, bercerita tanpa menjatuhkan satu tetespun air mata, sekolah, lulus sekolah, bekerja dan menjaga kekasihnya sampai sekarang karena dulu dia bertahan hidup dengan tidak memedulikan apa-apa?

Saat itu aku lihat dirinya sebagai saksi hidup yang telah diselamatkan oleh ketidakpedulian.

Bahkan hal yang buruk di dunia ini bisa menyelamatkan seseorang. Bukankah kepedulianku benar-benar bisa menyelamatkan hewan-hewan di luar sana? Atau menyejahterakan kura-kura peliharaan kakakku yang selama ini hanya dia abaikan? Atau sebagai permintaan maaf kepada kucing-kucing peliharaanku yang mati dan tidak diberikan tempat beristirahat yang layak.

Suatu hari, karena suatu kejadian yang membuat aku, dia (laki-laki sederhana tadi) dan dua teman sekelas kami duduk bersama berhadapan. Kami berempat melakukan forum. Lupa bagaimana akhirnya dia mulai menceritakan sakit yang sering dia rasakan di tubuhnya, beberapa kejadian tidak menyenangkan waktu dia kecil, keadaan keluarganya dan seterusnya. Dan seterusnya.

Aku terkejut memandangnya. Saat itu hampir pukul lima. Aku duduk membelakangi jendela. Dia duduk di seberangku. Menghadap jendela. Cahaya matahari sore jatuh di ruangan kelas dan memantul ke wajahnya.

Ketika itu aku baru pelan-pelan menyedehanakan sosok dirinya. Dia kurus sampai tulang pipinya cukup menonjol di wajahnya. Bersandar, menahan sisa-sisa kemarahan dan ketidaksukaannya yang ada dalam ceritanya. Berkali-kali dia katakan "Aku tidak peduli", juga "Bukan urusanku".

Seketika, tidak ada yang bisa menyakitinya lebih jauh.

Dalam film The Mockingjay Part 1, ada bagian dialog Presiden Snow yang sering terdengar dalam pikiranku. Tidak peduli ketika aku sedang apa dan di mana.

"Miss Everdeen," Katanya. "hal yang paling kita cintailah yang menghancurkan kita."

Suatu kali aku bertanya, kenapa bisa demikian?
Karena orang-orang yang jatuh cinta sangat peduli.
Karena dalam cinta ada kepedulian. Dan selalu begitu.

Aku tumbuh dengan memelihara kucing di rumah. Seekor kucing berwarna kuning polos (seperti singa betina) yang tiba-tiba masuk rumah dan tidak lama kemudian merasakan rumahku adalah rumahnya juga. Kucing itu galak (membuatnya semakin mirip singa betina). Kehidupan jalanan membuatnya perlu menjadi galak untuk bisa bertahan hidup. Tapi aku menyadari bahwa ketika di rumah, dia tahu kalau dia tidak perlu segalak ketika di jalanan.

Anak-anaknya lahir dan aku memandangi, bermain dengan mereka, melihat mereka makan, tidur, membuat kegaduhan di rumah, melihat mereka tumbuh---aku lalui itu semua dengan cinta dalam diriku untuk mereka. Perasaan lunak yang kadang membuatku tidak nyaman---untuk sebagian orang mungkin terlihat berlebihan tapi ini sebuah kejujuran bahwa aku tulus merasakan itu semua. Mereka bukan lagi peliharaan. Tapi keluarga.

Ketika aku tahu bahwa ada perkembangan ilmu pengetahuan di dunia ini yang dinamai "Animal Testing", yang kutahu pertama kali adalah animal testing dilakukan untuk produk kosmetik. Kemudian aku tahu lagi untuk obat-obatan (entah itu obat untuk manusia atau hewan lagi). Dan sekarang aku tahu, genetika mereka juga di uji coba dan dikembangbiakan dalam pabrik-pabrik industri daging untuk kelak disebarkan ke konsumen sebagai makanan. Ke manusia. Yang memelihara jenis hewan yang sama di rumah-rumah mereka.

Aku tonton video animal testing yang aku temukan. Menyadari hatiku yang utuh mencintai hewan terluka sangat mudah. Aku terkejut menyadari dua hal yang selalu ada dalam hidupku tapi baru aku ketahui di umurku yang---saat itu---ke 17 tahun:

1. Ada banyak nyawa hewan yang "dihabiskan" untuk make up yang digunakan mahasiswa, karyawan sampai pelacur. Semua nyawa itu pergi setelah menderita di meja-meja uji coba, ketakutan, tidak ada yang berani---tidak ada yang mau---menolong mereka, untuk dijadikan makanan, mengisi perut kaum lesbian dan homoseksual dengan pasangan mereka di restoran.

2. Hatiku yang utuh mencintai hewan telah terendam sangat lama dan dalam di lautan kepedulianku sendiri. Wajar jika ia sangat lunak. Dan kaumku sendiri menggoresnya. Menombaknya. Menggarami lukanya.

Aku menangis saat itu menghitung banyaknya restoran, pabrik, piring makananku yang menyajikan berbagai macam daging selama aku hidup 17 tahun---sekarang, 19 tahun. Dan masih mampu menangisi itu semua sekarang. Apa yang mereka alami sebelum mereka terlihat begitu lezat di atas piringku?

Sekarang aku selalu terhenti melihat daging ayam, ikan, sapi, kambing, domba atau daging apapun yang disajikan di restoran-restoran. Aku berhenti memandangi daging mereka dan bertanya dengan sangat tulus---tidak berani menyuarakannya karena malu atas kekejaman yang dilakukan kaumku---dalam hati.

"Kejadian macam apa yang kalian lalui sebelum sampai di sini, di hadapanku, di hadapan semua orang yang lapar dan punya uang?"

Comments

Post a Comment